Katanya, inovatif punya derajat satu tingkat lebih tinggi daripada kreatif. Memang, ada yang justru beranggapan kreatif punya derajat yang lebih tinggi.
Kata Robert Warlow, seorang motivator terkemuka, setiap orang semestinya bersikap inovatif, yang ditandai dengan punya sikap ingin tahu, senantiasa terbuka terhadap setiap ide baru, dan tidak konvensional. Nah lho, apa tuh maksudnya dengan “tidak konvensional?” Dalam kacamata si Robert Warlow tadi, ‘tidak konvensional’ bermakna siap menantang hal-hal yang (seolah) tak bisa ditantang.
“Jadilah orang aneh, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja,” kata si Warlow. Hmmm…..Dalam konteks ini, inovatif dikaitkan pada memunculkan sesuatu yang semula tidak ada sedangkan inovatif lebih pada memasukkan hal-hal baru dari hal yang sudah ada.
Orang Jepang, kata si Warlow juga, lebih cenderung tergolong inovatif. Contoh, perusahaan elektronik Philips yang bermarkas di Eindhoven, Belanda, merupakan perusahaan yang menemukan teknik penggunaan laser untuk pemutar CD, tapi justru perusahaan SONY yang sukses membuat pemutar CD (CD player) pada awal dekade 1980-an.
Nah, kira-kira saya, anda, dan kalian termasuk yang mana ya: inovatif atau kreatif?










