Albert Einstein telah mengubah masa depan tanpa memenangkan sebuah pemilihan umum atau menggerakkan suatu angkatan perang. Segala yang dikerjakannya adalah ide. Kalimat pembuka ini mengutip tulisan Fred Guterl di Majalah Newsweek.
Einstein memang brilian. Namun demikian, ternyata Einstein juga memiliki stereotip usang. Penampilannya yang khas dengan rambut acak-acakan, ditambah lagi dengan jaket cardigan-nya yang lusuh, dan kecerdasannya lalu mengantarkan opini publik kepada sebuah pendapat yang cukup populer dan memotivasi banyak mahasiswa sains bahwa lompatan besar sains terkadang cukup datang dari seorang genius saja, yang punya kemampuan untuk menginterpretasi kembali dan mencapai hakikat dari filsafat sains itu sendiri.
Intinya, sesuatu penemuan yang besar bisa dihasilkan sendiri oleh seorang yang supergenius.
Sampai-sampai timbul pertanyaan: setelah Einstein, selanjutnya siapa lagi? Akan adakah figur yang sangat menonjol akan lahir membentuk lintasan peluru sains yang baru?
Tampaknya tidak. Zaman telah berubah sejak Einstein menemukan teori relativitasnya. Di masa Einstein dan sebelumnya, sains dan teknologi masih hanya menjadi milik para pemilik modal dan para ilmuwan yang bekerja demi penemuan-penemuan baru di dalam laboratorium-laboratorium yang terletak di basement rumah-rumah mereka.
Sedangkan hari ini, telah tercipta jaringan laboratorium-laboratorium raksasa yang disponsori oleh pemerintah, universitas, perusahaan-perusahaan besar dan para kapitalis pemilik modal yang dikerahkan untuk senantiasa menemukan sesuatu inovasi baru. Penemuan demi seorang. “Pada akhir abad ke-19, anda masih bisa melihat seorang ilmuwan penemu yang dominan,” kata Daniel Kevles, yang seorang sejarahwan di Universitas Yale. “Namun sekarang anda memiliki para penemu yang terorganisir. Bahkan sebuah konsep yang akan menjadi lompatan besar dalam sains dikerjakan bersama-sama. Ladang ilmu pengetahuan saat ini diramaikan oleh para genius. Setiap dari mereka setiap saat bekerja dengan persoalan-persoalan sains besar,” lanjutnya.
Hal itu bermakna, masyarakat sains telah menjadi lebih mantap dan lebih dapat dipercaya untuk menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia yang lebih baik, sekaligus mempercepat kehancuran bumi jika penemuan itu disalahgunakan. Terobosan semacam ini sudah dimulai sejak Perang Dunia II dimulai, ketika Angkatan Bersenjata AS menginginkan senjata artileri pertahanan udara (arhanud) yang bisa menghancurkan pesawat serang musuh dari darat (ground to air combat), juga dari pesawat serang (air to air combat) milik mereka. Atau sebaliknya, air to ground. Saat itu, belum satu pun orang tahu bagaimana membuat bom yang bisa meledak di atas udara. Pentagon pun mulai mendanai laboratorium fisika terapan pada John Hopkins University di Baltimore.
Pentagon juga melengkapi proyek itu dengan para ilmuwan spesialis: pakar plastik dan rekayasa bahan, ahli elektromagnetik, dan beberapa bidang spesialisasi lainnya. Kesimpulan mereka, bahwa prinsip fusi sangat menentukan untuk memenangkan PD II. Dan usaha untuk membuat itu, seperti halnya Proyek Manhattan yang bertujuan menciptakan bom atom, proyek ini menjadi satu preseden baru karena mengumpulkan para ahli untuk menghasilkan sebuah penemuan. Pentagon pun menawarkan kontrak untuk sebuah proyek pembuatan jet tempur kepada sebuah kontraktor besar. “Henry Ford dapat mengerti setiap keping bagian produk yang kami pesan,” jelas Don Kash, seorang pakar teknologi pada George Mason University di Washington DC. “Tidak seorang pun bisa melakukan itu di Toyota,” lanjutnya.
Sejak itulah metoda ini dikembangkan secara luas, tak hanya bertujuan untuk memenangkan perang tapi menjadi lebih luas dari itu. Sebuah usaha inovasi sains untuk menemukan sesuatu terobosan sains baru jelas sesuatu yang sangat kompleks. Seorang kepala peneliti, selain harus mampu mengembangkan mesin-mesin yang kompleks, ia juga mesti ahli mendisain rancang bangun aksi penelitian pascapenemuan.
Negara-negara maju di seluruh dunia, saat ini berlomba menyusun tim-tim peneliti tangguh yang dibiayai oleh negara. Juga perusahaan-perusahaan besar rela mengeluarkan dana miliaran dollar hanya untuk meriset inovasi-inovasi baru bagi berbagai jenis produk yang diperlukan konsumen.
Filed under: sains










