Atmakusumah Astraatmadja, Ketua Dewan Pers Nasional periode 2000-2003, pernah berkata bahwa salah satu ciri negara maju bisa dilihat dari kemampuan masyarakatnya untuk menulis dengan benar sesuai kaidah bahasa dan kaidah jurnalistik. Dalam konteks kaidah jurnalistik, kemampuan menulis itu terkait dengan beberapa parameter, yakni berstruktur menarik, enak dibaca serta mudah dipahami oleh semua kalangan.
Oleh karena itu, tokoh yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia kewartawanan bermimpi bahwa suatu saat nanti ilmu jurnalistik bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan nasional, paling tidak dimulai dari tingkat SLTP.
Prof. Dr. Azyumardi Azra Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta juga menganggap ilmu teknik tulis-menulis sangat penting diberikan sejak dini. Menurut rektor yang juga pernah menjadi wartawan Majalah PANJI MASYARAKAT ini, salah satu penyebab minimnya jumlah orang Indonesia yang piawai menulis dengan kaidah yang benar, di antaranya karena kurangnya pelajaran mengarang di sekolah. Padahal menulis akan menjadikan seseorang piawai dalam mengorganisir pikiran, logika mantik dan juga mengorganisir argumen. “Menulis juga akan membuat manusia menjadi lebih manusiawi dan beradab,” katanya.
Tentu ada alasan, mengapa keduanya sepakat untuk mengembangkan kepiawaian tulis menulis ini secara formal pada usia dini. Pertimbangannya saat duduk di bangku sekolah menengah (memasuki usia remaja), pada saat itulah tingkat penalaran mereka mulai berkembang dengan baik. Padahal, penalaran yang baik akan memudahkan seseorang untuk mengorganisir pikirannya guna dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Kelak, jika impian jurnalistik masuk kurikulum terwujud, idealnya kurikulum tersebut dibuat secara sederhana. Misal, pada tahap awal pelajar hanya diberikan pemahaman jurnalistik secara teoritis, belum pada kerangka penulisan, seperti definisi jurnalistik, fungsi dan peranan jurnalistik, tujuan utama jurnalistik serta elemen-elemen dalam jurnalistik.
Pemberian materi yang sederhana ini dimaksudkan agar mudah diserap oleh siswa sesuai dengan daya nalar mereka. Selari dengan kematangan berfikir para siswa, kurikulum pun diakselerasikan, misal bagi siswa Kelas 1 SMA, kepada mereka sudah mulai diajarkan teknik menulis feature sederhana, tajuk rencana serta teknik meresensi buku.
Soal-soal yang diberikan kepada mereka pada saat ujian pun sebaiknya bukan semata pilihan berganda, melainkan soal-soal yang menggunakan daya nalar. Contohnya, membuat lead, memberikan caption foto atau membuat feature dan berita—meskipun masih dalam level yang sederhana.
Filed under: jurnalisme











Jurnalisik adalh bahan menarik bagi seorang pelajar khususnya bagi saya ini yg hobi menulis
Mas, saya ijin menggunakan gambar di atas untuk blog saya, terima kasih