kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

Mereview Kata “MADINAH”

madinah.png

Selama ini, kebanyakan dari kita sudah terlanjur memahami kata “madinah” sebagai sebuah nama kota di Saudi Arabia; sebuah kota bersejarah dalam peradaban Islam. Bahkan, karena kemudian kata itu digandeng dengan kata “al-munawarah” sehingga menjadi “madinah al-munawarah” yang artinya kota yang bercahaya, maka perlahan kata “madinah” dimaknai sebagai “kota” dalam bahasa Indonesia. Tengoklah pengajaran bahasa Arab tingkat sekolah dasar dan menengah, yang mengajarkan madinah = kota.

Penasaran, berburu literatur pun menjadi alternatif terakhir. Juga, menjahit berbagai informasi yang pernah saya dengar tentangnya. Saya pernah mendengar penjelasan dari seorang alumnus Fakultas Adab IAIN bahwa kata “madinah” punya akar kata “din”. Itu lho, “din” yang selama ini diterjemahkan sebagai “agama”.

Menurut DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, kata “din” itu sendiri telah membawa makna susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya dalam istilah “din” itu tersembunyi suatu sistem kehidupan.

Oleh sebab itu ketika din Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Artinya, madinah merupakan tempat dilaksanakannya din Allah. Seperti halnya, kata “masjid”, yang berasal dari kata sujud, diberi imbuhan “ma” menjadi bermakna “tempat sujud”.

Dari akar kata “din” dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.

Dari akar kata “madana” itu kemudian lahir kata benda “tamaddun” yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). Di kalangan penulis Arab, perkataan tamaddun digunakan – kalau tidak salah – untuk pertama kalinya oleh Jurji Zaydan dalam sebuah judul buku Tarikh al-Tamaddun al-Islami (Sejarah Peradaban Islam), terbit 1902-1906.

Sejak itu perkataan Tamaddun digunakan secara luas dikalangan umat Islam. Di dunia Melayu, tamaddun digunakan untuk pengertian peradaban. Di Iran orang dengan sedikit berbeda menggunakan istilah tamaddon dan madaniyat. Namun di Turkey orang dengan menggunakan akar madinah atau madana atau madaniyyah menggunakan istilah medeniyet dan medeniyeti. Orang-orang Arab sendiri pada masa sekarang ini menggunakan kata hadharah untuk peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima ummat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai istilah tamaddun. Di anak benua Indo-Pakistan tamaddun digunakan hanya untuk pengertian kultur, sedangkan peradaban menggunakan istilah tahdhib.

Terminologi tentang Madinah, juga pernah digunakan di Indonesia. Sebuah kelompok perjuangan Darul Islam yang digagas oleh SM Kartosuwiryo pernah memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII), Agustus 1949 silam. Nah, dalam susunan redaksi proklamasinya itu, tertulis keterangan tempat sbb: Madinah Indonesia. Saya mencoba mengaitkan pilihan dua kata tersebut dengan terminologi “madinah” yang berarti tempat dilaksanakannya din Allah tadi. Artinya, Kartosuwiryo bervisi bahwa Indonesia merupakan “madinah” berikutnya dari “madinah-madinah” terdahulu yang sudah pernah ada.

Nah, jadi sangat jelas, bahwa madinah bukan semata tentang kota. Dan, madinah juga pernah ada jauh sebelum Nabi Muhammad ada. Jika pun kemudian ada perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, itu karena Nabi Muhammad berkaca dari sejarah kemilau tegaknya din Allah oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Coba buka surat Yassin, yang bercerita tentang Nabi Musa, maka anda akan menjumpai redaksi sbb: “wa ja a min aqshal madinati rajulun yas’a.…” (yang dalam Mushaf Terjemah Depag RI diterjemahkan sebagai “…dan datanglah lelaki dari ujung kota”. Jelas, bahwa di masa Musa, terminologi madinah sudah ada.

Nah, semoga tulisan ini bisa membuka wawasan kita tentang sebuah kata yang sangat familiar di kalangan muslim: MADINAH, dari seorang hamba yang dlaif ini.

by: sofwan{kalipaksi}

Filed under: Moslem Litherary

Leave a Reply