Arsitektur Bazaar dalam Dunia Islam Klasik
by: sofwan{kalipaksi}
Anda pasti mengira bahwa pola pusat perdagangan seperti mal-mal itu berasal dari budaya Barat? Sebenarnya tidak juga sebab jauh-jauh hari sebelum renaissance bangkit—peristiwa ini menjadi tonggak kebangkitan Eropa—dunia Islam sudah mengenal bangunan-bangunan besar yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan. Hanya saja, dulu bangunan seperti itu dikenal dengan istilah Bazaar. Lebih spesifik lagi, ada sebutan lokal seperti “qaysariyyan” di Syam dan “bedesten” di Turki.
Bazaar-bazaar itu tentu saja dibangun oleh negara, melalui perangkat Dewan Kota—bukan oleh swasta seperti sekarang ini. Oleh karenanya, pembangunannya pun sangat terencana. Misalnya dalam hal pemilihan lokasi yang sangat mempertimbangkan faktor jalur perdagangan dunia pada masa itu. Uniknya, pola perancangan yang dikuasakan kepada Dewan Kota itu seragam, mulai dari Afrika Utara hingga negeri-negeri muslim di India pada masa itu.
Rancangan Dasar
Rancangan standar sebuah bazaar, bi-asanya terdiri dari jaringan blok-blok suqs (pasar) yang berada dalam satu bangunan dengan beberapa kubah di atasnya. Terkadang, dengan sebuah kubah utama di pusat bangunan. Seperti halnya pola pusat perdagangan masa kini, toko-toko yang menjual barang yang sama berkelompok dalam blok yang sama. Oleh karena memiliki banyak blok, maka tentu saja di dalamnya terdapat banyak lorong.
Nah, lorong-lorong tersebut dirancang sedemikian rupa agar tak pengap dan tetap segar. Karenanya, dibuatkanlah lubang-lubang ventilasi pada atap-atap lorong yang berbentuk cerukan lebar. Pola ini ditemukan hampir pada kebanyakan ba-zaar di beberapa dunia Islam, seperti bazaar Aleppo, misalnya (lihat gambar).
Unsur bangunan yang membuat disain bazaar itu elegan, salah satunya yakni plaza terbuka beratapkan langit. Elemen itu biasanya digunakan pada pertemuan dua atau lebih lorong utama. Bazaar-bazaar itu bisa dianggap salah satu ornamen klasik dalam perkembangan kota-kota Islam di zaman itu.
Selain dibangun di pusat kota, bazaar yang sifatnya khusus—sebagai arena penjualan produk-produk masyarakat urban— biasanya berdampingan dengan kompleks masjid. Di zaman keemasan penguasa muslim ketika itu, arsitektur bazaar dan masjid berkembang secara beriringan, seperti saudara kembar, baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar. Bazaar berskala kecil misalnya, bazaar di Qazvin di Iran, atau pasar buku di Kashan, sedangkan yang berskala besar antara lain, Pasar Ottoman di Istambul yang menyediakan berbagai macam barang.
Kilas Balik Perkembangan Bazaar
Pada awalnya, sebelum berkembang menjadi bazaar, perdagangan di negeri-negeri muslim tersebut terkonsentrasi di pasar-pasar tradisional. Bahkan, jauh sebelum masa itu, para produsen atau pedagang membawa barang dagangannya dalam karavan-karavan yang ditarik dengan kuda atau unta, mirip film-film cowboy ala Amerika Barat.
Menurut beberapa sejarahwan, pola “caravan trading” ini terinspirasi oleh perilaku tentara-tentara Khilafah Islam dari Pusat yang selalu bergerak mengelilingi negeri-negeri federasi mereka sebagai bentuk “taftis al-zharfiyah” (kontrol teritorial) sehingga negara-negera federasi itu tetap berada dalam satu kesatuan “daar al-Islam”. Nah, waktu itu, para rombongan tentara itu menggunakan karavan multifungsi, yang bisa difungsikan sebagai gudang perbekalan sekaligus sebagai tempat beristirahat.
Pola dagang itu pun kemudian berkembang menjadi lebih modern. Kota-kota Islam yang semakin hari berkembang selari dengan berkembangnya peradaban pun mulai membangun pasar-pasar permanen. Hajat pasar permanen itu menjadi kian vital lantaran kota-kota itu juga menjadi jalur perdagangan utama, seperti kota Isfahan dan Teheran (Iran), Aleppo dan Damaskus (Syira), Bursa dan Istambul (Turki), Baghdad dan Kairo, hingga kota Fest.
Pasar-pasar itu beragam bentuknya, mulai dari pasar berskala kecil hingga berskala besar. Pasar-pasar besar biasanya menjadi ajang perdagangan produk tekstil, baik yang berkualitas unggul maupun bahan imitasi, yang menjadi simbol ukuran status sosial para penduduk kota-kota utama.
Di belahan barat, seperti di Cordoba (Spanyol), pola penataan pasar juga berkembang. Pasar-pasar di belahan Barat ini juga berfungsi sebagai penampungan pasokan dari belahan timur, yang waktu itu menjadi sentral imperium. Beberapa di antaranya, yang masuk dalam catatan para penulis antara lain, pasar khusus kulit kertas di Los Pergamineros, pasar parfum di Las Perfumistas, dan pasar sandal di Los Zapateros. Berdasarkan catatan seorang geografer, ada tiga pusat perdagangan penting dan strategis yang terletak di jalur perdagangan antara India dan Timur Jauh (sekarang Timur Tengah) yaitu di oasis Bukhara dan Gujarat, dan antara Eropa Utara dan Skandinavia, yaitu di Sungai Olga. Tapi sayang, data-data arsitektur tentangnya sangat minim.
Bazaar di Mesir
Berbeda dengan bazaar-bazaar di Andalusia, bazaar di Kairo dicatat dalam banyak manuskrip sejarah. Salah satunya, bazaar tertutup di tepian sungai Nil yang kemudian berkembang menjadi sebuah kota bernama Fustat. Bazaar itu dibangun oleh Khalifah Marwan I pada tahun 690 masehi. Kompleks perdagangan di Fustat bertahan selama empat abad sebagai pusat trading, hingga posisinya tergantikan oleh Iskandarsyah, sebuah kota maritim yang cukup besar yang dibangun oleh khilafah dari trah lain.
Menurut catatan pengembara bernama al-Maqdisi (ditulis tahun 985), berbagai komoditi perdagangan dari Andalusia, dari Turki, dari China bisa ditemukan di kompleks perdagangan Fustat. Pusat perdagangan itu terletak di sepanjang jalan utama Fustat.
Bangunan-bangunan toko permanen yang berjejer di jalanan Fustat kebanyakan merupakan rumah berukuran tinggi. Tampaknya, ruang pada bagian atas rumah itu berfungsi sebagai gudang penyimpanan sementara yang berisikan tekstil hingga bahan makanan. Salah satu ilustrasi yang bisa menggambarkan kondisi obyektif pada saat itu antara lain lukisan pasar sutra hasil rekaan pelukis David Roberts (1849) di Cairo (lihat gambar). Pasar yang menjadi obyek lukisan itu berkembang pada abad 16 masehi dan terletak di sebuah ruang terbuka antara masjid dan makam Sultan Qansuh al-Ghuri. Lihatlah, jendela-jendela pasar yang dibangun pada masa Mamluk terletak dua meter dari atas tanah.
Sementara itu Nasir Khusraw, juga seorang pengembara, mencatat pasar terbuka di samping masjid Amr ibn al-Ash yang lazim dikenal sebagai pasar al-Qanadil sebagai pasar paling variatif di seluruh dunia pada masa itu.
Lima abad kemudian, dominasi pasar-pasar itu pun berubah. Pada masa itu, jika anda ingin mencari barang, carilah ke Qaysariyya (pusat perbelanjaan) Khan Khalili, yang dibangun pada abad ke-16 masehi. Insya Allah, barang yang dicari akan ditemukan di sana, begitu mitos yang berkembang pada masa itu.
Dari Damaskus hingga Istambul
Sementara itu di Syiria, Spanyol dan Afrika Utara, pusat-pusat perbelanjaan yang ada pada umumnya juga merupakan pusat perdagangan sutra. Sedangkan di Aleppo dan Damaskus, qaysariyya juga menjadi pusat pakaian dari bulu binatang, selain juga menjual bahan tekstil berkualitas, emas dan perak. Nah, dari sekian banyak pola arsitektur bangunan di dunia Islam klasik, bangunan pusat perbelanjaan yang dibangun pada masa Khilafah Ottoman dianggap lebih kokoh. Cirinya, beratapkan banyak kubah dan memiliki pintu-pintu yang kokoh lagi besar. Satu bangunan yang masih bertahan hingga kini, yaitu yang dibangun di Bursa yang dibangun pada masa sultan Ottoman yang ke-2, Sultan Urkhan sekitar tahun 1326.
Bedesten (sebutan lokal bagi qaysariyya di Ottoman) Bursa pada abad ke-15 berkembang menjadi jantung perbelanjaan distrik bisnis di lingkungan ibu kota imperium. Bahkan kemudian berkembang menjadi distrik kota dagang terbesar kedua. Bedesten Bursa ini berukuran 70 x 35 meter yang dibungkus oleh 14 kubah kecil dengan 32 toko di dalam, dan 56 toko di dinding luar.
Di samping bedesten Bursa, masih ada satu lagi yang berdiri kokoh, yaitu bedesten Ottoman di Istanbul yang justru bercorak lebih seperti benteng. Bisa dikatakan inilah bedesten terbesar di sana pada masa itu. Gaya bangunannya yang berbentuk seperti benteng membuatnya dijuluki “Benteng Perdagangan dan Komersial”.
Seperti halnya benteng, tentu saja bedesten ini tak berdiri sendiri. Dia seperti halnya inti atom yang dikelilingi oleh partikel-partikel atom penunjang lainnya. Di sekitar bedesten, terdapat kumpulan bangunan berkubah yang berdiri di sisi-sisi jalan. Fungsi bangunan di sekitarnya pun beragam, mulai dari gudang hingga industri kerajinan. Walaupun demikian, antara “inti atom” dan “partikel-partikel lain” itu menyatu dalam sebuah kawasan.
Untuk memasuki kompleks kawasan itu, pengunjung harus melalui pintu gerbang besar yang ditutup pada malam hari atau hari libur. Kilasan perkembangan arsitektur bangunan-bangunan bisnis tadi menyiratkan sebuah horison bagi kita, selaku penerus peradaban abad 21 ini. Ada nafas tersirat di dalamnya, bahwa Islam tak semata bicara ilmu pengetahuan, ilmu agama, atau strategi perang semata, tapi juga teramat sangat memperhatikan pertumbuhan ekonomi negara yang berhulu dari pertumbuhan ekonomi warganya.
Khalifah sadar betul bahwa di beberapa tempat harus dibangun pusat pertumbuhan ekonomi, melalui sektor perdagangan. Di sini, swasta tumbuh atas kebajikan khalifah. Tak semaunya sendiri membangun, tanpa peduli aturan negara. Ekonomi umat akan lebih tumbuh jika diiringi political will yang kuat dari pemerintahnya.
Filed under: architecture













