
Ini masih tentang Kota Qayrawan di Tunisia, yang di masa silam pernah menjadi salah satu kota terkemuka dalam dunia Islam. Tulisan ini sebenarnya masih terkait dengan artikel terdahulu tentang arsitektur Masjid Qayrawan. Namun, dimensi artikel ini lebih pada sistem sanitasi perkotaan ketika di abad ke-9 masehi.
Kota-kota muslim di era itu, setiap wilayah merupakan sebuah entitas yang lengkap dan terpadu: punya modul lingkungan, masjid, toko, restoran, rumah dan wilayah untuk rekreasi. Prinsip ini pada abad kesembilan sudah dijalankan.
Di luar dinding Masjid Qayrawan ini, terdapat sebuah tangki air berbentuk lingkaran berkapasitas besar yang digunakan sebagai resapan untuk persediaan air warga kota: yang terbesar berukuran diameter 128 meter dibangun oleh Abu Ibrahim Ahmad pada tahun 860.
Tangki air ini merupakan titik kulminasi dari sistem pengairan yang luar biasa pada masa itu: terbuat dari dinding batu yang diperkuat dengan struktur semisirkular yang didesain mampu menahan tekanan air.
Tangki air ini mensuplai kebutuhan warga Qayrawan melalui saluran air sepanjang 36 kilometer mulai dari Marguelil Wadi. Kolam utamanya yang terletak lebih tinggi daripada kolam pengendapan (berdiameter 37 meter) itu memiliki semacam pulau kecil yang konon berfungsi sebagai tempat peristirahatan sang emir.
Jika berita itu benar, maka sesungguhnya kolam dan pulau kecil itu merupakan sebuah tempat rekreasi yang oleh Varro, seorang penulis cerita-cerita Romawi pernah dilukiskan dalam novelnya. Dan bahkan dirilis ulang oleh Hadrians “Maritim Theatre” Tivoli dalam pementasannya.
Di masa silam saja, peradaban muslim sudah semaju itu. Mengapa sekarang muslim identik dengan kekumuhan. Ayo dong belajar dari sejarah. Jangan hanya menjadikan sejarah sebagai nostalgi belaka.
Filed under: Moslem Litherary, city, sanitasi









