kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

Hendropranoto tentang Kota yang Harmoni

hendropranoto

foto saya comot dari penataanruang.net

Saya tidak ingin sinical, tapi ada lelucon tapi serius tentang siapa saja yang sering melanggar dokumen perencanaan sebuah kota. Pertama, Kepala Daerah atau orang pemerintahan yang tidak begitu mengerti dampak dari sebuah pelanggaran terhadap sebuah perencanaan kota. Kedua, orang yang punya banyak uang, yang dengan uangnya bisa membangun apa saja meski itu melanggar perencanaan. Ketiga, orang yang punya pangkat, yang dengan pangkatnya dan kekuasaannya membuat ia bisa membangun sebuah bangunan, misalnya, meskipun itu melanggar peruntukan. Dan keempat, planner itu sendiri, yang tidak memiliki sikap tegas pada produk rencana yang ia sudah yakini dibuat secara benar.

Nama Hendro Pranoto sangat identik dengan sejarah pembangunan perkotaan di negara ini, khususnya dalam konteks pembangunan prasarana kota terpadu, yang kemudian terkenal sebagai Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT). Di masa masih menjadi mahasiswa dulu, saya sudah mengagumi beliau, melalui buku-buku beliau. Salah satu buku beliau yang hingga kini masih saya koleksi adalah tentang P3KT.

Meski sudah pensiun sebagai PNS Departemen Pekerjaan Umum, di usianya yang sudah lewat sembilan windu, Hendropranoto masih aktif memberikan sumbangsih tenaga dan pikiran dalam derap pembangunan perkotaan di negeri ini. Beberapa bulan lalu, di sebuah bilik ruangan yang terletak di lingkungan Ditjen Cipta Karya, saya menemuinya untuk sebuah wawancara. Wawancara itu kemudian dimuat oleh Majalah KIPRAH, tentang bagaimana sekilas sejarah pembangunan prasarana perkotaan yang pernah berlangsung di negeri ini. Berikut petikannya:

Read the rest of this entry »

Filed under: Infrastruktur, architecture, city, tata ruang , , , , , ,

Wicaksono Sarosa

WICAKSAROSA 01

Dari “Fresh from Java” ke “International Knowledge-Worker”

Icon, begitu ia biasa disapa oleh saudara dan kawan-kawan sekolahnya, meski kemudian di dunia pekerjaan lebih sering dipanggil sebagai Wicak. Semasa di ITB, ia pernah dijuluki oleh bebrapa teman-temannya sebagai “fresh from Java” karena gayanya, terutama gaya bicaranya, yang sangat Jawa. Singkat kata, nuansa Jawa-nya “medok banget” ketika itu. Tapi, siapa sangka, perjalanan hidup Wicaksono Sarosa kemudian membawanya menjadi seorang instruktur pelatihan dan “knowledge-worker” di bidang perencanaan daerah yang berkelanjutan, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di berbagai tempat di luar negeri.

***

Read the rest of this entry »

Filed under: architecture, biografi, metropolitan, profesi, tata ruang , , , , ,

Anomali Detroit: Menuju Kota Mati?

Mengejutkan. Di era ketika urbanisasi menjadi tren, ketika kota-kota semakin sesak, Detroit justru sebaliknya. Jumlah penduduk kota ini terus menyusut. Majalah TIME, dengan tega, menyebut Detroit sebagai a Ghost Town alias Kota Hantu.  Tulis majalah itu, Detroit adalah kota besar dengan terlalu banyak gedung, tapi terlalu sedikit penduduk. Sungguh, sebuah anomali.

Jumlah penduduk kota ini menyusut drastis. Data statistik tahun 2008 memberi sinyal bahwa populasi penduduk Detroit hanya tinggal separuh jika dibandingkan pada tahun 1950 (lihat gambar).

sumber: TIME.com (klik untuk memperbesar)

sumber: TIME.com (klik untuk memperbesar)

Perhatikan, pada tahun 1950 jumlah penduduk kota ini mencapai 1,85 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2008 yang menyusut hingga separuhnya, 951 ribu jiwa.
Read the rest of this entry »

Filed under: architecture, kota, tata ruang

Ridwan Kamil: Konsultan Bukan Tukang Gambar

Arsitek lulusan Berkeley ini masih tergolong muda. Usianya baru 38 tahun. Namun, reputasinya dalam bidang urban desain tergolong meyakinkan. Bersama perusahaan konsultan Urbane Indonesia, Emil—begitu ia biasa disapa—dipercaya menggarap master plan dan urban design guidelines sebuah kawasan superblok Beijing Financial Street.

Distrik berisi 35 blok itu, dipadati seribu kantor institusi keuangan lokal dan internasional serta dilengkapi fasilitas turis, seperti hotel dan pusat belanja. Selain di Negeri Panda, buah karya Urbane, yang dimotori Ridwan Kamil itu bertebaran di sejumlah negara. Sebut saja Singapura, Hong Kong, Thailand, Vietnam, Mesir, Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat. Menurut sebuah sumber, omset Urbane Indonesia bisa mencapai Rp 8 milyar per tahun. Wow…

Tidak heran, jika nama dosen arsitektur di Institut Teknologi Bandung ini menjadi semacam ikon daru dalam komunitas urban desain di Indonesia. Selain mahir berkreasi, ia juga aktif menulis tentang isu-isu perkotaan.

Atas dasar itulah, Majalah KIPRAH tempat di mana saya ngamen sebagai penulis sekaligus editor mewawancari salah satu penggiat gerakan Green Cities di negeri ini itu. Nah, ini hasil obrolan saya dengan Emil. Semoga bermanfaat.

Read the rest of this entry »

Filed under: Konstruksi, architecture, biografi, city, kota, metropolitan, profesi, tokoh , , , ,