kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

The Old Man and The Sea

Satu Novel Berupa-rupa Wajah

Membaca novel klasik, yang sudah berkali-kali difilmkan, ternyata tetap mengasyikkan. Bukan lantaran karena si penulisnya adalah Ernest Hemingway, yang melegenda itu. Tapi karena memang alur cerita dan detail peristiwa yang ada di dalamnya membuat saya seperti tertarik ke dalam, enggan lepas. Hahaha….seperti ikan marlin raksasa yang tertangkap kail Santiago; dua tokoh dalam buku berjudul: The Old Man and The Sea.

Naskah buku yang saya baca memang bukan naskah berbahasa Inggris, yang orisinil, melainkan naskah berbahasa Indonesia hasil terjemahan penerjemah Penerbit Serambi.

Di antara kebimbangan apakah buku itu sebuah ‘cerpen’ panjang atau novel, saya mencoba meneroka kembali jejak karya Ernest yang ia tulis saat tinggal di Kuba dan berhasil menyabet Hadiah Pulitzer 1953 untuk kategori fiksi serta Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters, sekaligus mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Sastra itu.

Info yang saya peroleh, novel atau cerpen panjang ini dianggap menyentuh sehingga berkali-kali difilmkan dan terus dibaca orang di berbagai penjuru dunia hingga saat ini. Salah satu pemeran Santiago adalah Anthony Quinn. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Menurut Majalah TIME terbitan 8 September 1952, buku ini tergolong novel yang sangat pendek. Hanya 27.000 kata.

Sebelum yakin benar, Ernest sampai harus membaca ulang sampai 200 kali.

“I have had to read it now over 200 times and every time it does something to me. It’s as though I had gotten finally what I had been working for all my life.”

Namun, ada secarik sisi menarik dari kisah karya Ernest ini, yang membuat saya tergerak untuk membuatnya menjadi sebuah artikel semi album gambar di blog ini. Ya…ini tentang desain sampul The Old Man and The Sea, yang ternyata multirupa. Tak seragam, seperti gaya komunis Kuba, tempat Ernest menuliskannya.

Ah…ini memang tentang sesuatu yang renyah di antara keberbobotan The Old Man and The Sea.

Ini dia cover-cover novel The Oldman and The Sea dari berbagai edisi (klik untuk detail cover).

klik untuk melihat album foto aneka cover buku novel The Old Man and The Sea di kalipaksi@multiply dot com

Filed under: buku , , ,

Rancang Bangun Gedung Mahkamah Konstitusi

Author: Sofwan D. Ardyanto & Agung Y. Achmad

Ini adalah buku ketiga yang pernah saya tulis, sebagai seorang copywriter. Sebuah buku yang agak berat. Buku ini semacam bedah gedung sebuah bangunan yang kemudian menjadi kantor Gedung Mahkamah Konstitusi RI.

Pendeskripsian tentang rancang bangun suatu gedung pemerintah seperti Buku Rancang Bangun Gedung Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia ini merupakan tradisi baru, jika bukan yang pertama kalinya.

Read the rest of this entry »

Filed under: Konstruksi, architecture, buku, jurnalisme , , , ,

Wajah Penataan Ruang Kawasan Metropolitan

Category:Books
Author: Sofwan D. Ardyanto (as a copywriter)
JUDUL: Wajah Penataan Ruang Kawasan Metropolitan
Penerbit: Direktorat Penataan Ruang Nasional, Ditjen Penataan Ruang
Tahun: 2008
Halaman: 132 halaman

Ini adalah sebuah resensi tentang salah satu buku, yang pernah saya tulis. Judul buku itu: Wajah Penataan Ruang Kawasan Metropolitan. Dalam proses penulisannya, saya tidak sendirian. Saya, sesungguhnya hanyalah copywriter yang bertugas untuk menterjemahkan visi-visi penataan ruang kawasan metropolitan. Dalam proyek ini, saya berkolaborasi dengan dosen semasa saya dulu menempuh masa-masa perkuliahan. Ia, Ir. Ira Indrayati, MCP. Juga, sahabat karib saya semasa kuliah di Planologi – Institut Teknologi Indonesia, Ir. Budi Haryo Nugroho.

Visualisasi Tata Ruang Metropolitan

“Penataan ruang bukan semata tentang mendesain sebuah tata ruang yang secara spasial mengakomodir segenap kepentingan dan fungsi ruang, tetapi juga tentang harmonisasi antara manusia dan ruang yang ditinggalinya.”

Kota-kota metropolitan di Indonesia, seiring dengan perkembangannya yang semakin pesat pada beberapa dasawarsa terakhir, kini berada dalam level pemanfaatan ruang yang semakin kompleks. Bagaimanapun, kota metropolitan merupakan tumpuan harapan bagi sebagian umat manusia. Metropolitan seolah memiliki magnet tersendiri yang membuat manusia cenderung untuk memadatinya. Kecenderungan itulah yang membuat kawasan metropolitan selalu padat penduduk. Alhasil, seiring dengan semakin padatnya penduduk, bertambah pula kompleksitas pada kawasan itu. Pada akhirnya, kompleksitas yang terus bertambah itu akan memicu bertambahnya persoalan yang harus dihadapi oleh pengelola dan penduduk metropolitan.

Read the rest of this entry »

Filed under: architecture, buku, city, copywriting, fotografi, kota, metropolitan , , ,