November 22, 2009 • 2:16 pm

sekadar modifikasi ilustrasi
Sembilan November lalu, dunia memperingati keruntuhan Tembok Berlin. Kenangan tentang masa-masa kejayaan komunisme di Eropa Timur pun kembali disebut-sebut. Salah satunya tentang anekdot-anekdot yang hidup di masa itu. Kompas menuliskannya di sini: Anekdot Era Komunis Tetap Hidup.
Di antara anekdot yang dirilis kembali oleh Kompas, ada satu yang membuat saya tergelitik. Ini kutipannya:
”Mana yang lebih baik, sebuah neraka komunis atau sebuah neraka kapitalis?
Tentu saja jawabannya neraka komunis! Selalu terjadi kelangkaan korek api dan bahan bakar, pemanas selalu rusak, dan para iblis serta makhluk-makhluknya selalu sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai”
Saya pun teringat anekdot serupa yang beberapa hari sebelum tulisan di Kompas itu naik cetak membuat tawa sekelompok komunitas meledak. Masih tentang neraka. Sebuah anekdot yang juga lahir karena perasaan ketertindasan.
Read the rest of this entry »
Filed under: cerbata, darul islam, humor, joke/humor , darul islam, humor
Oktober 1, 2009 • 4:26 pm

gambar dari: flickr
Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini berkaitan dengan konteks ini hari tanggal 1 Oktober, yang 34 tahun silam, menjadi awal babak kelam komunisme di negeri ini. Segera setelah peristiwa 30 September, komunisme menjadi kambing hitam. Orang-orang komunis disikat. Ada yang dibunuh, dipenjara tanpa sidang, diusir, dianiaya. Sebagian lagi lari ke luar negeri. Mati juga di sana, seperti Sobron Aidit, sastrawan teman sekamar Chairil Anwar. Ia tutup usia di Paris.
Komunisme segera menjadi hantu. Seperti juga Lukman, anak-anak sebaya lain yang lahir pada awal dekade 1970-an, punya visi yang sama tentang komunisme: ia seperti iblis, anti Tuhan, terusir dari surga, tak senila pun punya nilai kebaikan. Cara berpikir itu, bagi Lukman, sesat dan menyesatkan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Esai, corat-coret, darul islam, pluralisme, politikana, sunni, syiah , aidit, darul islam, komunis
September 6, 2009 • 1:14 am
Selagi masih dalam suasana Ramadan menjelang Ied al-Fithri, saya jadi ingat sebuah tulisan yang sebenarnya pernah saya tulis di blog saya yang lain di kalipaksi.multiply.com pada dua tahun silam. Tidak ada salahnya, jika jurnal lawas itu saya perbarui di blog ini. Yah, setidaknya dalam momentum yang lebih tepat.

Ini tentang takbir Ied, yang berkumandang pada dua hari raya Islam: Ied al-Fithri dan Ied al-Adha. Tentang hal ihwal takbir Ied tersebut, beberapa tahun silam, saya terkesiap ketika mendapati sebuah buku tentang sejarah Nabi (sirah Nabawiyah) yang menulis tentang keterkaitan takbir Ied tersebut dengan peristiwa Fathu Makkah, atau penaklukan kota Mekkah.
Read the rest of this entry »
Filed under: Literatur Islam, corat-coret, darul islam, politik, sunni, syiah
Agustus 18, 2009 • 1:08 pm

Masjid Rahmatan lil Alamin
Agustus adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, bangsa ini merdeka. 17 Agustus 1945. Kemarin, hampir seluruh pelosok dan pojok kampung mendadak beraura merah putih. Merah putih di mana-mana. Di tiang bendera. Di gapura-gapura. Di kantor-kantor. Di mana-mana ada merah putih untuk menghormati sebuah peristiwa penting 64 tahun silam.
Namun, sepuluh hari sebelum 17 Agustus, sekelompok warga di negeri ini juga memperingati sebuah proklamasi bertanggal 7 Agustus 1949. Itu proklamasi Negara Islam Indonesia (NII). Jangan bilang bahwa di bumi pertiwi ini sudah tidak ada lagi upacara untuk menghormati peristiwa yang dianggap sakral oleh komunitas Darul Islam (DI) tersebut.
Entah empat tahun belakangan ini, apakah proklamasi 7 Agustus itu masih diperingati. Yang jelas, lima tahun lalu, saya pernah mengabadikan sebuah “upacara” peringatan proklamasi berdirinya NII itu. Waktu itu, 7 Agustus 2004. Di teras puncak Masjid Rahmatan lil Alamin (Masjid RLA), di kompleks pendidikan Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, peringatan proklamasi itu dilakukan.
Yang menjadi Inspektur Upacara tentu saja Sang Imam NII. Dia Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Sedangkan teks proklamasi NII dibacakan oleh Sekretaris Negara NII (maaf, nama saya rahasiakan).
Read the rest of this entry »
Filed under: corat-coret, darul islam, islam progresif, politikana