November 15, 2009 • 12:42 pm
Musim penghujan telah tiba. Jakarta pun mulai disesaki dengan genangan air. Banjir adalah momok. Tak hanya bagi Jakarta, tapi juga bagi kota-kota lain. Surabaya merupakan salah satu kota yang tergolong sukses mengantisipasi banjir. Tulisan ini merupakan beberapa kiat kota-kota besar di negeri kita berkelit dari banjir. Ada yang masih berupa ide. Ada yang sudah diterapkan. Ini hanya sebuah catatan, yang pernah dimuat di sebuah majalah bertemakan infrastruktur.
Oh ya, sebagian isi tulisan ini adalah hasil bincang-bincang dengan Cak Bambang DH, Walikota Surabaya, ketika saya ke Surabaya tahun lalu. Thanks Pak Bambang… 
Read the rest of this entry »
Filed under: Infrastruktur, Konstruksi, city, kota, metropolitan, sanitasi, tata ruang , banjir, drainase, Infrastruktur, jakarta, Konstruksi, surabaya, tataruang
November 14, 2009 • 4:11 pm

foto saya comot dari penataanruang.net
Saya tidak ingin sinical, tapi ada lelucon tapi serius tentang siapa saja yang sering melanggar dokumen perencanaan sebuah kota. Pertama, Kepala Daerah atau orang pemerintahan yang tidak begitu mengerti dampak dari sebuah pelanggaran terhadap sebuah perencanaan kota. Kedua, orang yang punya banyak uang, yang dengan uangnya bisa membangun apa saja meski itu melanggar perencanaan. Ketiga, orang yang punya pangkat, yang dengan pangkatnya dan kekuasaannya membuat ia bisa membangun sebuah bangunan, misalnya, meskipun itu melanggar peruntukan. Dan keempat, planner itu sendiri, yang tidak memiliki sikap tegas pada produk rencana yang ia sudah yakini dibuat secara benar.
Nama Hendro Pranoto sangat identik dengan sejarah pembangunan perkotaan di negara ini, khususnya dalam konteks pembangunan prasarana kota terpadu, yang kemudian terkenal sebagai Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT). Di masa masih menjadi mahasiswa dulu, saya sudah mengagumi beliau, melalui buku-buku beliau. Salah satu buku beliau yang hingga kini masih saya koleksi adalah tentang P3KT.
Meski sudah pensiun sebagai PNS Departemen Pekerjaan Umum, di usianya yang sudah lewat sembilan windu, Hendropranoto masih aktif memberikan sumbangsih tenaga dan pikiran dalam derap pembangunan perkotaan di negeri ini. Beberapa bulan lalu, di sebuah bilik ruangan yang terletak di lingkungan Ditjen Cipta Karya, saya menemuinya untuk sebuah wawancara. Wawancara itu kemudian dimuat oleh Majalah KIPRAH, tentang bagaimana sekilas sejarah pembangunan prasarana perkotaan yang pernah berlangsung di negeri ini. Berikut petikannya:
Read the rest of this entry »
Filed under: Infrastruktur, architecture, city, tata ruang , arsitektur, Infrastruktur, kota, metropolitan, tata ruang, tokoh

Kantor Pusat PDAM di Banjarmasin (foto by: sofwan @ multiply)
Lima belas bulan lalu, pada sebuah pagi di sekitar akhir tahun 2007, saya sempat berbincang-bincang dengan Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni di lobi Hotel Century di Jakarta, tempat ia menginap. Ketika itu, Yudhi datang ke Jakarta untuk menghadiri malam anugerah PU Award atas keberhasilan Kota Banjarmasin melakukan pengelolaan air limbah berkat kinerja Perusahaan Daerah Air Limbah (PDAL) Kota Banjarmasin.
Dalam perbincangan itu, Yudhi kemudian memancangkan sebuah tekad, “tahun depan, pengelolaan air minum di kota kami harus menang.” Tekad itu ternyata terwujud. Akhir tahun 2008, Kota Banjarmasin kembali menerima PU Award, tapi kali ini untuk kategori yang berbeda, yakni bidang pengelolaan air minum terbaik untuk kategori Kota Besar, sebagai award bagi PDAM Bandarmasih, pada khususnya.
Read the rest of this entry »
Filed under: Infrastruktur, kota, profesi , air minum, banjarmasin, Infrastruktur, metropolitan, PDAM
Maret 21, 2009 • 10:21 am
Setelah sempat naik ojek hampir 15 menit dari pintu tol Balaraja, akhirnya sampai juga di Kantor Bupati Tangerang. Sebenarnya nggak perlu naik ojek, tapi karena macet dan sudah dua kali ditelpon sekretaris protokoler-nya Rano Karno, ojek jelas jadi pilihan utama. Yupz, siang itu, saya memang ada janji dengan Rano Karno untuk sebuah wawancara. Sebagai Wakil Bupati Tangerang, saya ingin Rano berbicara tentang infrastruktur. Kebetulan, wawancara itu akan dimuat untuk sebuah majalah tentang infrastruktur yang terbitan Puskom PU, yang saya kelola.
Di sana ada Suti Karno, yang ternyata menjadi semacam asisten pribadi Rano. Sebagai seorang artis yang terjun ke dunia politik, dan kemudian terpilih sebagai pejabat publik, Rano tak menampik bahwa ia masih harus banyak belajar tentang berbagai hal, termasuk di antaranya tentang pembangunan infrastruktur.
Read the rest of this entry »
Filed under: Infrastruktur, biografi, tokoh , biografi, Infrastruktur, tokoh