
Politik ala gue? Ya, gitu deh. Lagi pula, jika mau dikutak-katik dengan pendekatan grammar bahasa Arab, politikana kan bisa dijadikan dua kata: Politik dan Ana. Ana dalam bahasa Arab, artinya ya gue.
Selamat. Akhirnya semalam politikana.com di-launching, meski di mata saya, peluncuran semalam hanya semata de-jure saja karena sesungguhnya Politikana sudah meluncur dalam diri kita masing-masing, yang sejak awal mulai jatuh cinta dengan situs ini.
Duduk di kursi barisan tengah, yah, sekitar di kawasan undakan kedelapan dari barisan paling depan, saya mencoba meresapi beberapa pernyataan “politik” para empu dalam peluncuran Politikana semalam, mulai dari Enda, presenter Ndoro Wicak, hingga Mas Gunawan.
Semalam Enda bilang, yang saya coba simpulkan begini: bahwa politik tak hanya tentang kasak-kusuk, sradak-sruduk meraih tampuk tahta kekuasaan, tapi juga tentang dinamika di berbagai sektor kehidupan, seperti infrastruktur hingga ketersediaan logistik minyak goreng. Intinya, politik adalah sebuah ranah multidimensi. Bukan bermaksud men-dolop kepada Mas Enda, saya sepakat sejuta persen dengan statement politikana Enda itu (meski saya sebenarnya sudah pernah membaca semangat dari pernyataan itu dari artikel Mas Blontang di Politikana berjudul: Tersesat Politik di Negeri Politik).
Semalam Enda juga bilang, karena politik yang tidak satu dimensi itu pula, Politikana hadir untuk menjadi wadah suara-suara politik yang beragam. Saya menangkap pesan, Politikana hadir untuk menjadi semacam media alternatif bagi kemunculan aspirasi-aspirasi politik yang datang bukan dari arus mainstream pembahasan di bidang politik yang selama ini dimonopoli oleh para elite politik dan pengamat politik. Namun, meski bukan dari komunitas mainstream, karena terwadahi oleh situs yang tidak katro, setidaknya punya magnet untuk dilirik.
Read the rest of this entry »
Filed under: internet, politik, politikana