kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

Topeng Bulan Syawal

ilustrasi: sumber topeng dari mana-mana

ilustrasi: sumber topeng dari mana-mana

Semoga ini tak begitu terlambat. Bukankah ini masih bulan Syawal?

Syawal adalah akhir. Ia juga permulaan. Akhir dari rital suci Ramadan. Akhir dari keterburu-buruan spiritual yang begitu bersemangat agar tak tertinggal parsel ampunan dan tiket penukar kavling surga. Karena itu, Syawal menjadi awal dari sebuah kefanaan yang kembali pulang. Fana yang terusir sejenak oleh Ramadan.

Jika Goenawan Mohamad terang-terangan menyebut bahwa yang dirayakan Ramadan adalah kekosongan (Tatal 59), izinkan saya melengkapinya: Syawal diciptakan untuk mengisi kekosongan itu. Meski sesungguhnya Syawal tak kan pernah bisa memerankannya. Tatal 59 Mas Goen itu di antaranya berbunyi seperti ini:

Yang dirayakan Ramadhan adalah kekosongan. Tapi kata ini memang terdengar buruk di zaman ini. Jalanan telah sesak, etalase meriah, ruang tamu ramai perabot, hutan tak punya pertapa, dan orang bersaing menyatakan kesalehan dengan pengeras suara. Puasa kini proses menunggu tabuh yang bertalu-talu. Kita telah mengubah maghrib jadi isyarat merayakan makan. Menjelang saat itu, lapar ibarat 12 jam transit.

Read the rest of this entry »

Filed under: Esai, islam progresif , ,

Misteri 1 Ramadan dan 1 Syawal

2 Ramadan 1430 H.

Artikel ini saya tulis pada hari ke-2 Ramadan 1430 H.  Bagi seorang teman yang sudah memulai puasa Ramadan satu hari lebih awal, artikel ini semestinya tertanggal 3 Ramadan 1430 H, bukan 2 Ramadan 1430 H.  Begitulah, setiap tahun Ramadan selalu diwarnai dengan fenomena perbedaan awal Ramadan.  Fenomena itu kemudian berlanjut dengan perdebatan akhir Ramadan, yang menjadi penentu perayaan Idul Fithri (baca: Hari Raya Lebaran).

Mungkin ini perkara sepele tapi mengandung pesan terselubung yang tidak sepele. Perbedaan itu menjadi semacam cermin persatuan umat yang tidak utuh. Juga menjadi cermin ‘ketidaktuntasan’ upaya para ilmuwan falaq untuk menjawab persoalan klasik yang hampir muncul setiap tahun itu.

Jika memang persoalannya adalah sistem  matematika penanggalan lantas mengapa penanggalan sistem masehi (matahari) tidak pernah memicu keributan. Belum pernah saya dengar ada perdebatan tentang tanggal 1 Januari yang menjadi awal Tahun Baru, misalnya.

Pertanyaan introspektif yang kemudian juga ingin saya kemukakan dalam jurnal ini adalah mengapa tak terjadi perdebatan yang serupa pada setiap awal tahun baru Hijriah pada setiap 1 Muharram? Bukankah penetapan tanggal 1 Muharram akan menjadi titik krusial dalam penetapan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal? Logikanya, jika tanggal 1 Muharram bergeser satu hari maka 1 Ramadan dan 1 Syawal pun akan bergeser satu hari. Begitu bukan?

Read the rest of this entry »

Filed under: Literatur Islam, Moslem Litherary, corat-coret, islam progresif

Agustus: Bulan Dua Proklamasi

Masjid Rahmatan lil Alamin

Masjid Rahmatan lil Alamin

Agustus adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, bangsa ini merdeka. 17 Agustus 1945.  Kemarin, hampir seluruh pelosok dan pojok kampung mendadak beraura merah putih. Merah putih di mana-mana. Di tiang bendera. Di gapura-gapura. Di kantor-kantor. Di mana-mana ada merah putih untuk menghormati sebuah peristiwa penting 64 tahun silam.

Namun, sepuluh hari sebelum 17 Agustus, sekelompok warga di negeri ini juga memperingati sebuah proklamasi bertanggal 7 Agustus 1949. Itu proklamasi Negara Islam Indonesia (NII). Jangan bilang bahwa di bumi pertiwi ini sudah tidak ada lagi upacara untuk menghormati peristiwa yang dianggap sakral oleh komunitas Darul Islam (DI) tersebut.

Entah empat tahun belakangan ini, apakah proklamasi 7 Agustus itu masih diperingati. Yang jelas, lima tahun lalu, saya pernah mengabadikan sebuah “upacara” peringatan proklamasi berdirinya NII itu. Waktu itu, 7 Agustus 2004.  Di teras puncak Masjid Rahmatan lil Alamin (Masjid RLA), di kompleks pendidikan Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, peringatan proklamasi itu dilakukan.

Yang menjadi Inspektur Upacara tentu saja Sang Imam NII. Dia Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Sedangkan teks proklamasi NII dibacakan oleh Sekretaris Negara NII (maaf, nama saya rahasiakan).

Read the rest of this entry »

Filed under: corat-coret, darul islam, islam progresif, politikana

Mengapa Noordin M. Top Menebar Teror di Indonesia, Bukan di Malaysia?!?

Ini tulisan pertama yang ter-posting sejak Mei lalu. Cukup lama, memang. Bukan karena sedang enggan menulis, tapi karena justru sedang tak senggang karena terdera deadline berterusan. Yah, maklum hidup dari menulis.

Satu hal yang kemudian memacu saya hari ini untuk menulis, apalagi jika bukan perkembangan kasus Noordin M Top dan jaringannya.  Apalagi, ketika  Kadiv Humas Polri sudah mengumumkan bahwa Noordin M Top masih hidup.

Bukan apa-apa, press release Polri tersebut kembali memicu kekhawatiran publik bahwa Noordin M Top akan kembali mengguncang tanah pertiwi ini dengan teror-teror bom.  Kekhawatiran itu kemudian diiringi dengan sebuah pertanyaan sumir: mengapa Noordin tak “berjihad” di Malaysia saja, mengapa Mister Ibnu M. Top itu tak meledakkan Menara Petronas saja, misalnya. Mengapa harus mengacak-acak Indonesia? Mengapa tak Malaysia, toh Malaysia adalah purwarupa dari Inggris, salah satu motor Barat?

Jujur, tak sulit sebenarnya untuk menjawab pertanyaan itu, jika saja mengawalinya dari awal keterlibatan Noordin dengan gerakan yang bermuara pada aksi teror itu.

Begini, ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).

Read the rest of this entry »

Filed under: islam progresif, politik, politikana, terorisme