
![]()
Membaca berita singkat di Koran Tempo edisi Selasa (4/3) kemarin, saya menjadi tambah mudeng mengapa sebagian besar stasiun televisi di Indonesia lebih memilih untuk melanggengkan memperbanyak tayangan sinetron berseri, meski mutunya tidak begitu bagus daripada memproduksi program acara news semacam: Jejak Petualang, National Geographic, sains, dsb. Yups, lagi-lagi ini soal rating.
Rating — dihitung oleh lembaga riset independen — adalah ukuran yang menjelaskan berapa banyak penonton menyaksikan acara televisi tertentu. Celakanya, rating lalu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan suatu program, karena berbanding lurus dengan kesuksesan menjaring iklan. Maka jangan heran kalau pengembangan program acara televisi — mulai dari perencanaan sampai produksi dan pemasaran — umumnya dilakukan dengan motif meraup rating sebesar-besarnya. Terutama untuk jam-jam tayang utama (prime time). Di sini hukumnya tegas: program yang sukses adalah program yang rating-nya tinggi. Tidak peduli bagaimana kualitasnya, masa bodoh karya asli atau jiplakan. Dengan kata lain, rating menjadi satu-satunya kebenaran tunggal, seperti eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia beragama.
Masih terkait dengan rating, Marketing and Communication Executive AGB Nielsen Media research Andini Wijendaru mengatakan, data dua bulan pertama 2008 belum menunjukkan perubahan pola kepemirsaan masyarakat. Penonton masih memilih tayangan kategori series and movie, ketimbang berita dan informasi.
Read the rest of this entry »
Filed under: media massa