kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

Adam Malik dan Cerita Sebuah Kamera

adam-malik-dan-kamera1

Lihatlah foto pada posting ini. Senyum Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik saat berjabat tangan Menteri Luar Negeri Portugis, Ernesto Melo Antunes seusai pembicaraan diplomatis di Roma 4 November 1975 terabadikan dengan baik melalui pita film kamera hitam putih fotografer Associated Press.

Waktu itu kedua negara melakukan perundingan soal integrasi Timor Timur ke dalam wilayah negara Indonesia. Senyum itu penuh kemenangan; kemenangan seorang diplomat memenangkan negaranya.

Read the rest of this entry »

Filed under: biografi, fotografi, jurnalisme, media massa, politik, tokoh , , ,

Byline

kompas-2.jpg

Sebuah isu tampaknya cukup menarik untuk diskusikan Ceritanya, 15 Desember lalu Bill Kovach, salah satu penulis buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” dan seorang wartawan terhormat di Amerika, datang ke kantor harian Kompas. Kovach menemui Jakob Oetama dan Suryopratomo, masing-masing pemimpin umum dan pemimpin redaksi Kompas, di ruang kerja Oetama untuk diskusi selama satu jam, lantas Kovach menemui sekelompok wartawan Kompas untuk berdiskusi di sebuah ruang rapat.

Read the rest of this entry »

Filed under: media massa

Televisi Berita Juru Kunci Rating

emcom5.jpg

Membaca berita singkat di Koran Tempo edisi Selasa (4/3) kemarin, saya menjadi tambah mudeng mengapa sebagian besar stasiun televisi di Indonesia lebih memilih untuk melanggengkan memperbanyak tayangan sinetron berseri, meski mutunya tidak begitu bagus daripada memproduksi program acara news semacam: Jejak Petualang, National Geographic, sains, dsb. Yups, lagi-lagi ini soal rating.

Rating — dihitung oleh lembaga riset independen — adalah ukuran yang menjelaskan berapa banyak penonton menyaksikan acara televisi tertentu. Celakanya, rating lalu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan suatu program, karena berbanding lurus dengan kesuksesan menjaring iklan. Maka jangan heran kalau pengembangan program acara televisi — mulai dari perencanaan sampai produksi dan pemasaran — umumnya dilakukan dengan motif meraup rating sebesar-besarnya. Terutama untuk jam-jam tayang utama (prime time). Di sini hukumnya tegas: program yang sukses adalah program yang rating-nya tinggi. Tidak peduli bagaimana kualitasnya, masa bodoh karya asli atau jiplakan. Dengan kata lain, rating menjadi satu-satunya kebenaran tunggal, seperti eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia beragama.

Masih terkait dengan rating, Marketing and Communication Executive AGB Nielsen Media research Andini Wijendaru mengatakan, data dua bulan pertama 2008 belum menunjukkan perubahan pola kepemirsaan masyarakat. Penonton masih memilih tayangan kategori series and movie, ketimbang berita dan informasi.

Read the rest of this entry »

Filed under: media massa

Gelimang Hura-Hura & Canda di Layar Kaca

page-17.jpg

Para pakar dan akademisi komunikasi sepakat bahwa televisi adalah media massa yang paling ampuh dan efektif menyampaikan pesan kepada massa hingga akhirnya terbentuk persepsi, bahkan mengubah sikap dan perilaku massa. Suatu program komunikasi dianggap berhasil jika program itu dapat tepat menancap pada jantung sasaran—yang klimaksnya adalah mampu mengubah, atau setidaknya menjadi pemicu perubahan sikap dan perilaku massa yang menjadi pemirsanya (komunikan).

Read the rest of this entry »

Filed under: edukasi, media massa