Agustus 23, 2009 • 1:55 pm
2 Ramadan 1430 H.
Artikel ini saya tulis pada hari ke-2 Ramadan 1430 H. Bagi seorang teman yang sudah memulai puasa Ramadan satu hari lebih awal, artikel ini semestinya tertanggal 3 Ramadan 1430 H, bukan 2 Ramadan 1430 H. Begitulah, setiap tahun Ramadan selalu diwarnai dengan fenomena perbedaan awal Ramadan. Fenomena itu kemudian berlanjut dengan perdebatan akhir Ramadan, yang menjadi penentu perayaan Idul Fithri (baca: Hari Raya Lebaran).
Mungkin ini perkara sepele tapi mengandung pesan terselubung yang tidak sepele. Perbedaan itu menjadi semacam cermin persatuan umat yang tidak utuh. Juga menjadi cermin ‘ketidaktuntasan’ upaya para ilmuwan falaq untuk menjawab persoalan klasik yang hampir muncul setiap tahun itu.
Jika memang persoalannya adalah sistem matematika penanggalan lantas mengapa penanggalan sistem masehi (matahari) tidak pernah memicu keributan. Belum pernah saya dengar ada perdebatan tentang tanggal 1 Januari yang menjadi awal Tahun Baru, misalnya.
Pertanyaan introspektif yang kemudian juga ingin saya kemukakan dalam jurnal ini adalah mengapa tak terjadi perdebatan yang serupa pada setiap awal tahun baru Hijriah pada setiap 1 Muharram? Bukankah penetapan tanggal 1 Muharram akan menjadi titik krusial dalam penetapan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal? Logikanya, jika tanggal 1 Muharram bergeser satu hari maka 1 Ramadan dan 1 Syawal pun akan bergeser satu hari. Begitu bukan?
Read the rest of this entry »
Filed under: Literatur Islam, Moslem Litherary, corat-coret, islam progresif
Beberapa tahun lalu, sekitar 2004, saya pernah menerbitkan sebuah majalah yang kemudian diberi nama BELADIRI. Sayang, majalah itu sekarang mati suri. Yah, selain sudah tak terlalu punya daya jual, peminat yang semakin berkurang, komunikasi saya dengan para penggiat beladiri sudah hampir tiga tahun terputus.

font image: majalah beladiri
Aha, ternyata arsip lama naskah-naskah tulisan yang pernah saya tulis di majalah ini sepertinya masih relevan untuk saya upload di ruang blog amatir ini. Yah, saya hanya berfikir pasti bermanfaat. Lagi pula, dalam atmosfer persiapan pemilu seperti sekarang ini, bosan juga menulis pernak-pernik informasi di seputar pesta rakyat itu.

Salah satu tulisan lama itu membahas tentang meditasi, yang kemudian saya coba kaitkan dengan keyakinan orang-orang muslim tentang “khusyuk”. Melalui tulisan ini, saya ingin membangun jembatan pemahaman bahwa selalu ada benang merah antara diksi-diksi dalam literatur Islam dengan non-Islam. Itu, salah satunya.
***
Read the rest of this entry »
Filed under: Moslem Litherary, corat-coret, pluralisme , ali bin abi thalib, buddha, bushido, jepang, kungfu, meditasi, pluralisme

Saya pernah bertungkus lumus pada sebuah kelompok perjuangan. Juga, pernah beberapa tahun berkhidmat di sebuah pesantren sebagai pembina jurnalistik. Di sanalah, saya mencoba mengawinkan diksi-diksi tentang modernitas dan literatur-literatur dunia Islam. Salah satunya tentang “mimpi”.
Read the rest of this entry »
Filed under: Literatur Islam, Moslem Litherary, motivasi , motivasi

Yang mana Masjidil Aqsha?
Kenapa ya, kok masih banyak orang salah kaprah tentang Masjidil Aqsha. Bahkan website yang dimiliki majalah sekelas Majalah Sabili (lihat di sini: Gambar Masjid Al Aqsa di Botol Minuman Keras).
Dalam portal berita Majalah Sabili itu, gambar yang menjadi ilustrasi Masjidil Aqsha adalah sebuah bangunan berkubah kuning/emas. Jelas, salah kaprah. Itu bukan bangunan Masjidil Aqsha, melainkan Kubbah al-Sakhrah atau The Dome of The Rock.

Ini bangunan Kubbah al-Sakhrah atau The Dome of The Rock. Bukan Masjidil Aqsha
Memang, Masjidil Aqsha dan Kubbah al-Sakhrah berada pada satu kompleks. Tapi, kubah Masjidil Aqsha bukan berwarna emas/kuning tapi perak kusam.
Foto yang tepat untuk Masjidil Aqsha ya yang ini (lihat foto di bawah ini):

Masjidil Aqsha (dengan kubah warna perak kusam)
Read the rest of this entry »
0.000000
0.000000
Filed under: Moslem Litherary, architecture, fotografi, masjid, sunni, syiah , arsitektur, fotografi, masjid, sunni, syiah