Ini sebuah kenangan tentang dinamika anak-anak pergerakan Madinah Indonesia–sebutan lain bagi pergerakan NII. Agar tak bias dan menggeneralisir ke NII faksi lain, cerita ini bergulir di kalangan NII faksi Zaytun.
“Kun-paksakeun” adalah sebuah istilah yang lahir sebagai sebuah improvisasi spontan di sebagian kalangan aktivis pergerakan kelompok ini pada era dekade 1990-an. Di sel (baca: network/ idariah) Jakarta Barat, para mas’ul (aparat) di kompartemen (pernah disebut dengan istilah “komandemen”) ini semakin familiar dengan diksi: kun paksakeun. Memang, tak pernah ada penjelasan resmi bahwa diksi ini merupakan plesetan dari “kun fa ya kun“–sebuah penggalan ayat di Surat Yasin, yang terkenal itu. Entah di sel lain, apakah para aktivisnya juga sering memunculkan diksi ini dalam dialog-dialog di antara mereka.
***
Di blog ini juga, pada jurnal terdahulu dengan judul: “Kun fa ya Kun” (sebaiknya Anda membaca juga, pen), saya menulis tentang kegelisahan atas pemaknaan kun fa ya kun sebagai sebuah legitimasi mutlak terhadap sikup hidup yang penuh kepasrahan terhadap ketentuan Tuhan atas detail kehidupan manusia, yang seolah-olah menafikan campur tangan upaya manusia.
Di sana, saya menulis:











