Oktober 1, 2009 • 4:26 pm

gambar dari: flickr
Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini berkaitan dengan konteks ini hari tanggal 1 Oktober, yang 34 tahun silam, menjadi awal babak kelam komunisme di negeri ini. Segera setelah peristiwa 30 September, komunisme menjadi kambing hitam. Orang-orang komunis disikat. Ada yang dibunuh, dipenjara tanpa sidang, diusir, dianiaya. Sebagian lagi lari ke luar negeri. Mati juga di sana, seperti Sobron Aidit, sastrawan teman sekamar Chairil Anwar. Ia tutup usia di Paris.
Komunisme segera menjadi hantu. Seperti juga Lukman, anak-anak sebaya lain yang lahir pada awal dekade 1970-an, punya visi yang sama tentang komunisme: ia seperti iblis, anti Tuhan, terusir dari surga, tak senila pun punya nilai kebaikan. Cara berpikir itu, bagi Lukman, sesat dan menyesatkan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Esai, corat-coret, darul islam, pluralisme, politikana, sunni, syiah , aidit, darul islam, komunis
Beberapa tahun lalu, sekitar 2004, saya pernah menerbitkan sebuah majalah yang kemudian diberi nama BELADIRI. Sayang, majalah itu sekarang mati suri. Yah, selain sudah tak terlalu punya daya jual, peminat yang semakin berkurang, komunikasi saya dengan para penggiat beladiri sudah hampir tiga tahun terputus.

font image: majalah beladiri
Aha, ternyata arsip lama naskah-naskah tulisan yang pernah saya tulis di majalah ini sepertinya masih relevan untuk saya upload di ruang blog amatir ini. Yah, saya hanya berfikir pasti bermanfaat. Lagi pula, dalam atmosfer persiapan pemilu seperti sekarang ini, bosan juga menulis pernak-pernik informasi di seputar pesta rakyat itu.

Salah satu tulisan lama itu membahas tentang meditasi, yang kemudian saya coba kaitkan dengan keyakinan orang-orang muslim tentang “khusyuk”. Melalui tulisan ini, saya ingin membangun jembatan pemahaman bahwa selalu ada benang merah antara diksi-diksi dalam literatur Islam dengan non-Islam. Itu, salah satunya.
***
Read the rest of this entry »
Filed under: Moslem Litherary, corat-coret, pluralisme , ali bin abi thalib, buddha, bushido, jepang, kungfu, meditasi, pluralisme
Maret 12, 2009 • 12:55 am

Ini sebuah peristiwa yang sudah agak lama. Tidak terlalu istimewa, memang, tapi cukup unik di mata saya. Unik, begitu seorang pemuda shalat di Masjid Agung Bandung, sementara ia mengenakan sebuah kaos dengan desain tulisan yang sangat kontras dengan aktivitas ritual shalat, yang sedang ia jalankan. Di kaos hitam yang ia pakai itu tertulis: “Born To Rock, Drink and Fuck”: Lahir untuk nge-rock, mabok dan nge-fuck (anda tahu lah ya makna nge-fuck itu).
Read the rest of this entry »
Filed under: Literatur Islam, corat-coret, fotografi, joke/humor, parodi, pluralisme , bandung, humor, joking, pluralisme
Ini adalah satu dari beberapa tulisan saya untuk Majalah Warta Ekonomi

Paradigma bisnis yang menihilkan etika dan spiritualitas kian ditinggal banyak orang. Nilai-nilai agama tak lagi dipertentangkan dengan bisinis. Bahkan, spiritualitas menjadi corporate culture sebagai “modal” memajukan perusahaan.
“Ini bisnis, Coy. Jadi, loe mesti berhitung untung dan ruginya. Jika perlu, loe mesti tempuh segala cara bila ingin bisnis loe untung dan langgeng. Tapi, kalau loe mau mencari pahala, ya di mesjid saja”.
Ungkapan semacam itu sering kita dengar dari mulut seorang pebisnis senior kepada mereka yang dianggap masih hijau pengalaman di belantara bisnis. Dan, barangkali hampir semua pebisnis pernah meyakini pandangan semacam itu. Demi memenangi persaingan, misalnya, seorang pengusaha harus mengeluarkan jurus-jurus maut untuk mematikan lawan-lawannya, bila perlu berbohong, menyuap, atau menekan habis-habisan karyawan untuk meningkatkan produksi, menilap pajak, dan seterusnya. Bagi kalangan ini, bisnis adalah bisnis. Tidak ada kamus bahwa bisnis adalah juga berkaitan dengan nilai-nilai spiritual, karena nilai-nilai kebaikan itu dianggap tidak memberi efek keuntungan bagi suatu bisnis. Read the rest of this entry »
Filed under: Literatur Islam, bisnis, motivasi, pluralisme , bisnis, motivasi