kalipaksi dot com

Icon

ruang jurnalisme amatiran: lebih baik menulis daripada tidak

Che Guevara Di antara Kita yang Ambigu

foto dari: Wikipedia

foto dari: Wikipedia

Hari ini 8 Oktober 2009.

Empat puluh dua tahun silam, 8 Oktober 1967, Che Guevara tertangkap. Satu hari kemudian, 9 Oktober 1967, ia dieksekusi secara ‘diam-diam’ oleh seorang sersan Bolivia, Mario Teran. Pria Argentina berdarah campuran Irlandia dan Basque itu gugur, di tempat ia ditembak secara tidak jantan, di sebuah ruang kelas sekolah berdinding tanah liat.

Guevara sosok langka. Sosok tak wajar. Ia orang Argentina tapi menjadi pahlawan Kuba. Ia pengidap asma, ringkih, namun justru memimpin gerilya. Ia orang asing  (Argentina) yang pernah menjadi Menteri di sebuah negara lain (Kuba).  Memang, ia menerima status kewarganegaraan istimewa dari  sahabatnya Fidel Castro. Ia  juga seorang pejabat sebuah negara berdaulat (Kuba), yang kemudian memilih kembali ke hutan untuk memimpin revolusi di negara lain (Bolivia). Fotonya, yang ‘diragadiamkan’ oleh Alberto Korda itu, menjadi foto yang paling  banyak direpro dan dicetak ulang di seluruh di dunia. Ia seorang Guerrillero Heroico. Ia adalah ‘pahlawan’ lintasbangsa.

Read the rest of this entry »

Filed under: Esai, biografi, humanisme, internasional, motivasi, politik, politikana, tokoh , , , ,

Islam Komunis

gambar dari: flickr

gambar dari: flickr

Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini berkaitan dengan konteks ini hari tanggal 1 Oktober, yang 34 tahun silam, menjadi awal babak kelam komunisme di negeri ini. Segera setelah peristiwa 30 September, komunisme menjadi kambing hitam. Orang-orang komunis disikat. Ada yang dibunuh, dipenjara tanpa sidang, diusir, dianiaya. Sebagian lagi lari ke luar negeri. Mati juga di sana, seperti Sobron Aidit, sastrawan teman sekamar Chairil Anwar. Ia tutup usia di Paris.

Komunisme segera menjadi hantu. Seperti juga Lukman, anak-anak sebaya lain yang lahir pada awal dekade 1970-an, punya visi yang sama tentang komunisme: ia seperti iblis, anti Tuhan, terusir dari surga, tak senila pun punya nilai kebaikan. Cara berpikir itu, bagi Lukman, sesat dan menyesatkan.

Read the rest of this entry »

Filed under: Esai, corat-coret, darul islam, pluralisme, politikana, sunni, syiah , , ,

Agustus: Bulan Dua Proklamasi

Masjid Rahmatan lil Alamin

Masjid Rahmatan lil Alamin

Agustus adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, bangsa ini merdeka. 17 Agustus 1945.  Kemarin, hampir seluruh pelosok dan pojok kampung mendadak beraura merah putih. Merah putih di mana-mana. Di tiang bendera. Di gapura-gapura. Di kantor-kantor. Di mana-mana ada merah putih untuk menghormati sebuah peristiwa penting 64 tahun silam.

Namun, sepuluh hari sebelum 17 Agustus, sekelompok warga di negeri ini juga memperingati sebuah proklamasi bertanggal 7 Agustus 1949. Itu proklamasi Negara Islam Indonesia (NII). Jangan bilang bahwa di bumi pertiwi ini sudah tidak ada lagi upacara untuk menghormati peristiwa yang dianggap sakral oleh komunitas Darul Islam (DI) tersebut.

Entah empat tahun belakangan ini, apakah proklamasi 7 Agustus itu masih diperingati. Yang jelas, lima tahun lalu, saya pernah mengabadikan sebuah “upacara” peringatan proklamasi berdirinya NII itu. Waktu itu, 7 Agustus 2004.  Di teras puncak Masjid Rahmatan lil Alamin (Masjid RLA), di kompleks pendidikan Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, peringatan proklamasi itu dilakukan.

Yang menjadi Inspektur Upacara tentu saja Sang Imam NII. Dia Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Sedangkan teks proklamasi NII dibacakan oleh Sekretaris Negara NII (maaf, nama saya rahasiakan).

Read the rest of this entry »

Filed under: corat-coret, darul islam, islam progresif, politikana

Mengapa Noordin M. Top Menebar Teror di Indonesia, Bukan di Malaysia?!?

Ini tulisan pertama yang ter-posting sejak Mei lalu. Cukup lama, memang. Bukan karena sedang enggan menulis, tapi karena justru sedang tak senggang karena terdera deadline berterusan. Yah, maklum hidup dari menulis.

Satu hal yang kemudian memacu saya hari ini untuk menulis, apalagi jika bukan perkembangan kasus Noordin M Top dan jaringannya.  Apalagi, ketika  Kadiv Humas Polri sudah mengumumkan bahwa Noordin M Top masih hidup.

Bukan apa-apa, press release Polri tersebut kembali memicu kekhawatiran publik bahwa Noordin M Top akan kembali mengguncang tanah pertiwi ini dengan teror-teror bom.  Kekhawatiran itu kemudian diiringi dengan sebuah pertanyaan sumir: mengapa Noordin tak “berjihad” di Malaysia saja, mengapa Mister Ibnu M. Top itu tak meledakkan Menara Petronas saja, misalnya. Mengapa harus mengacak-acak Indonesia? Mengapa tak Malaysia, toh Malaysia adalah purwarupa dari Inggris, salah satu motor Barat?

Jujur, tak sulit sebenarnya untuk menjawab pertanyaan itu, jika saja mengawalinya dari awal keterlibatan Noordin dengan gerakan yang bermuara pada aksi teror itu.

Begini, ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).

Read the rest of this entry »

Filed under: islam progresif, politik, politikana, terorisme