Oktober 1, 2009 • 4:26 pm

gambar dari: flickr
Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini berkaitan dengan konteks ini hari tanggal 1 Oktober, yang 34 tahun silam, menjadi awal babak kelam komunisme di negeri ini. Segera setelah peristiwa 30 September, komunisme menjadi kambing hitam. Orang-orang komunis disikat. Ada yang dibunuh, dipenjara tanpa sidang, diusir, dianiaya. Sebagian lagi lari ke luar negeri. Mati juga di sana, seperti Sobron Aidit, sastrawan teman sekamar Chairil Anwar. Ia tutup usia di Paris.
Komunisme segera menjadi hantu. Seperti juga Lukman, anak-anak sebaya lain yang lahir pada awal dekade 1970-an, punya visi yang sama tentang komunisme: ia seperti iblis, anti Tuhan, terusir dari surga, tak senila pun punya nilai kebaikan. Cara berpikir itu, bagi Lukman, sesat dan menyesatkan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Esai, corat-coret, darul islam, pluralisme, politikana, sunni, syiah , aidit, darul islam, komunis
September 6, 2009 • 1:14 am
Selagi masih dalam suasana Ramadan menjelang Ied al-Fithri, saya jadi ingat sebuah tulisan yang sebenarnya pernah saya tulis di blog saya yang lain di kalipaksi.multiply.com pada dua tahun silam. Tidak ada salahnya, jika jurnal lawas itu saya perbarui di blog ini. Yah, setidaknya dalam momentum yang lebih tepat.

Ini tentang takbir Ied, yang berkumandang pada dua hari raya Islam: Ied al-Fithri dan Ied al-Adha. Tentang hal ihwal takbir Ied tersebut, beberapa tahun silam, saya terkesiap ketika mendapati sebuah buku tentang sejarah Nabi (sirah Nabawiyah) yang menulis tentang keterkaitan takbir Ied tersebut dengan peristiwa Fathu Makkah, atau penaklukan kota Mekkah.
Read the rest of this entry »
Filed under: Literatur Islam, corat-coret, darul islam, politik, sunni, syiah

Yang mana Masjidil Aqsha?
Kenapa ya, kok masih banyak orang salah kaprah tentang Masjidil Aqsha. Bahkan website yang dimiliki majalah sekelas Majalah Sabili (lihat di sini: Gambar Masjid Al Aqsa di Botol Minuman Keras).
Dalam portal berita Majalah Sabili itu, gambar yang menjadi ilustrasi Masjidil Aqsha adalah sebuah bangunan berkubah kuning/emas. Jelas, salah kaprah. Itu bukan bangunan Masjidil Aqsha, melainkan Kubbah al-Sakhrah atau The Dome of The Rock.

Ini bangunan Kubbah al-Sakhrah atau The Dome of The Rock. Bukan Masjidil Aqsha
Memang, Masjidil Aqsha dan Kubbah al-Sakhrah berada pada satu kompleks. Tapi, kubah Masjidil Aqsha bukan berwarna emas/kuning tapi perak kusam.
Foto yang tepat untuk Masjidil Aqsha ya yang ini (lihat foto di bawah ini):

Masjidil Aqsha (dengan kubah warna perak kusam)
Read the rest of this entry »
0.000000
0.000000
Filed under: Moslem Litherary, architecture, fotografi, masjid, sunni, syiah , arsitektur, fotografi, masjid, sunni, syiah
Oktober 29, 2007 • 2:58 pm

Saat ini media massa sedang asyik membahas fenomena al-Qiyadah al-Islamiyah, yang dituding sesat karena pimpinannya mengaku sebagai Rasul. Berita semacam ini sebenarnya biasa-biasa saja, tapi yang membuat saya terkejut yakni ketika mengetahui bahwa “Rasul” yang dimaksud adalah seorang yang dulu dikenal sebagai “Hilmi Mubasyir”. Nama itu sebenarnya nama samaran yang bersangkutan sebagai orang pergerakan bawah tanah sayap kanan.
Read the rest of this entry »
Filed under: Moslem Litherary, humanisme, pluralisme, sunni , zaytun